Semangat kemerdekaan terasa kental di jalan desa saat Paguyuban WANGSID turun dalam karnaval 17 Agustus. Bukan dengan kendaraan mewah, melainkan karya tangan sendiri: sebuah tank dari kardus bercorak loreng, lengkap dengan roda raksasa dan meriam dari tiang yang dibungkus rapi.
Empat pemuda berkaos hitam dan celana army berpose di samping karya itu. Bendera merah putih terpasang di puncak tank, berkibar di antara pepohonan pisang dan rumah warga. Di belakangnya, iring-iringan lain ikut meramaikan: ada float biru bertuliskan guyonan khas desa, hingga peserta berkostum yang membuat suasana semakin meriah.
Karnaval ini bukan sekadar pawai. Ini cara WANGSID merayakan kemerdekaan: kreatif, guyub, dan dekat dengan warga. Dari kardus bekas lahir kebanggaan. Dari jalan desa lahir tawa, foto bersama, dan ingatan yang akan dibawa sampai tahun depan.

