Jalan tanah merah menanjak ke punggungan bukit. Di puncaknya, anggota Paguyuban WANGSID berkumpul di hamparan rumput, menghadap lembah yang hijau dan berkabut. Beberapa motor terparkir di tepi jalur. Di tengah rombongan, bambu panjang diangkat — merah putih berkibar di angin dataran tinggi.
Kaos hitam seragam, anak kecil di depan, dan seorang sesepuh berbatik di sisi kanan menjadi potret lengkap WANGSID: lintas usia, satu arah. Ziarah dan doa bersama kali ini tidak hanya soal tempat. Ini soal berhenti sejenak dari hiruk desa, menatap jauh ke lembah, lalu menunduk dalam doa yang sama.
Dari puncak itu, pesan paguyuban terasa lebih jelas. Persaudaraan tidak hanya di balai desa atau di lapangan. Ia juga dibawa naik ke bukit, diikat pada tiang bendera, dan dititipkan dalam doa agar langkah WANGSID tetap solid di tanah datar maupun di tanjakan.

